Racauan Tenttara Semangka
Kenapa
kaget, bukankah dia memang tentara
semangka?
Racaumu
tanpa aturan ketika minuman terlarang itu memasuki tubuh,
Kaki-kaki
dan tanganmu sudah lama membeku dalam
getar yang tidak berirama.
Sekelilingmu
abai, seperti menganggapmu bagian dari mereka padahal kamu masih awal menikmati kerasnya minuman pemicu
api-api keliaran diri tersebut.
Kerlap-kerlip
lampu area rendah dalam membawa kemanusiaan masih menyala.
Sementara
kesadaran manusiamu sudah hilang terbang entah kemana.
Bisa
dikatakan beruntung, botol-botol yang menyaksikan polah minummu menggeletak
terserak tanpa pecah melukai.
Sial
penuh kemalangan karena telah
mengaburkan diri teman-teman yang kamu anggap setia semasa sadar itu.
Demikian
sekelumit potret kota-kota yang tertib tersusun dan maju adanya.
Tertib
dengan keamanan yang terjamin.
Tersusun
indah karena tataruangnya dikelola.
Maju
sejahtera merata segenap warga.
Namun,
masih saja menyelinap di gang-gang gelap, pengap, dan berlumpur keliaran insan
jelata.
Luput
dari mata-mata penentu arah kebijakan.
Atau,
jangan-jangan mengambil bagian kelam itu sebagai pajak?
Sebuah
pertanyaan yang berbahaya dan mustahil dibuka.
Sapen, 3 November
2026